PLAGIARISME

Dari beberapa sumber mengatkan bahwa Plagiarisme atau sering disebut plagiat adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator.

 

Lebih lanjut dalam esiklopedi tersebut disebutkan, yang tergolong kedalam bentuk plagiarisme meliputi:

  • menggunakan tulisan orang lain secara mentah tanpa memberikan tanda yang jelas bahwa teks tersebut diambil persis dari tulisan lain.
  • mengambil gagasan orang lain tanpa memberikan anotasi yang cukup tentang sumbernya aslinya.

Melihat dari karakteristik plagiarisme yang disebutkan di atas, sebenarnya kegiatan tersebut sudah menjadi hal biasa di kalangan kita, baik di kalangan blogger, pelajar, mahasiswa, sarjana, dll. Bahkan praktek plagiarisme ini juga (diduga) telah dilakukan oleh 1.700 orang guru di Riau untuk prasyarat sertifikasi guru (Jika hal ini benar, sungguh merupakan angka yang fantastis untuk sebuah kejahatan moral).
Kebiasaan ini bisa kita lihat, misalnya, pada berbagai tulisan yang dimuat beberapa situs dunia maya. Plagiarisme sudah merajalela sedemikian rupa sehingga agak sukar bagi kita untuk mencari sumber asalnya (kecuali bagi mereka yang memberikan anotasi sumber aslinya).

 

Masalah plagiarisme di negeri kita sudah dikenal luas di negara maju, sampai-sampai salah satu topik utama dalam pelatihan calon mahasiswa Indonesia untuk diberangkatkan ke Australia adalah pengertian plagiarisme . “Prestasi” ini tentu saja sangat memalukan bangsa kita, belum lagi ditambah berbagai perilaku buruk lainnya, seperti kasus pelanggaran HAM dan korupsi.Jika plagiarisme ini dibiasakan dan dianggap sebagai perbuatan yang wajar, apalagi dihalalkan dengan berbagai alasan, maka akan menjadi sebuah budaya buruk yang tidak mendidik, baik mendidik diri sendiri maupun orang lain. Kedalam diri sendiri, kebiasaan plagiarisme ini akan menumpulkan daya pikir dan daya kreasi kita sendiri. Sementara bagi orang lain, akan menimbulkan anggapan bahwa hal tersebut merupakan suatu kewajaran, yang pada akhirnya akan berakibat adanya peniruan berulang terhadap kebiasaan plagiarisme oleh generasi-generasi mendatang.

Manusia diciptakan dengan cipta, rasa, dan karsa. Kemudian manusia di berikan kelebihan kecerdasan untuk memecahkan masalah dengan berfikir. Setiap karya yang dihasilkan oleh manusia itu merupakan buah pikiran dan ide manusia yang perlu untuk diberikan apresiasi dan penghargaan. Karena pada dasarnya manusia yang hidup itu selalu ingin dihargai. Sehingga, jika manusia itu ingin dihargai maka dia juga harus bisa menghargai orang lain. Salah satu bentuknya adalah dengan menghargai hasil karya dari idenya. Dalam dunia Komputasi, sering kali bentuk dari ide tersebut dituangkan dalam bentuk software yang dibuat dengan Algoritma berdasarkan pemikiran pembuatnya. Dengan menggunakan lisensi yang benar saat memakai software tersebut dan tidak melakukan pembajakan itu merupakan sebuah penghargaan terhadap hasil karya orang lain. Namun permberian apresiasi ini terhambat oleh masalah lama yang sudah mengakar di Indonesia khususnya. Contoh dari masalah tersebut misalnya adalah plagiatisme. Plagiatisme merupakan suatu tindakan untuk melakukan penjiplakan terhadap karya orang lain dan membuatnya seolah-olah merupakan karya dari pemikiran sendiri. Sering sekali kebiasaan ini tidak disadari kebeardaannya oleh seseorang. Misalnya saja melakukan pembajakan software. Mungkin karena sudah terbiasa melakukan pembajakan tersebut sehingga pembajakan software menjadi suatu kebiasaan yang menempel pada diri seseorang. Contoh kecil lainnya adalah mencontek. Coba dibayangkan saja misalnya saja ada si A dan si B. Si A mencontek si B, kemudian nilai si B lebih bagus dari nilai si A. Bagaimana perasaan si A? Mungkin si A akan merasa jengkel tak terkata-kata, si A yang berpikir tapi si B yang dapat nilai bagus. Hal itu juga berlaku dalam hal pembajakan software. Ketika software di buat seseorang, kemudian dibajak orang lain kira-kira perasaan sang pembuat software bagaimana ya? Seperti yang diketahui, sangat sulit untuk membuat software dengan melakukan koding (cara bicara dengan computer). Sehingga kalau software yang dibuat oleh si pembuat software itu dibajak, mungkin si pembuat software itu juga akan merasa jengkel tak terkata-kata, karena software itu merupakan hasil dari pemikirannya. Jika adanya plagiatisme berkedok pembajakan, mencontek, dsb itu dibiarkan, maka tidak mustahil beberapa tahun kedepan rasa saling menghargai antara seseorang dengan orang yang lain itu akan hilang seperti kayu bakar yang dimakan api. Sehingga akan terjadi krisis kepercayaan. Antara seseorang yang satu dan yang lain tidak ada saling trust, yang ada hanyalah rasa curiga. Maka Kekayaan intelektual sekarang ini dijamin dengan perlindungan agar tidak terjadi hal-hal yang bisa mengakibatkan kerugian seperti beberapa contoh tadi. Hubungan Kekayaan Intelektual dan Perlindungan adalah dengan adanya perlindungan maka orang tidak akan takut untuk mengekspresikan Kekayaan Intelektualnya, karena sering kali kekayaan intelektual orang lain itu tidak dihargai, misalnya saja dibajak. Maka agar orang dapat mengekspresikan kekayaan intelektualnya diperlukan perlindungan terhadap kekayaan intelektual tersebut, sehingga tidak ada rasa was-was atau rasa takut jika nanti ide yang dihasilkan orang tersebut akan dibajak ataupun dicuri orang lain. Kekayaan Intelektual ini terjamin dengan adanya Hak Kekayaan Intelektual, yang sering disebut dengan HaKI. “Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) adalah hak eksklusif Yang diberikan suatu peraturan kepada seseorang atau sekelompok orang atas karya ciptanya. Secara sederhana HAKI mencakup Hak Cipta, Hak Paten Dan Hak Merk. Namun jika dilihat lebih rinci HAKI merupakan bagian dari benda” (Saidin, 1995). Kemunculan HaKI ini memicu munculnya dampak positif. Salah satunya, dengan diberlakukannya HaKI ini, beberapa perusahaan dan para pelaku bisnis terutama dibidang TI menjadi kabar gembira bagi mereka. Dalam hal ini misalnya adalah vendor besar seperti Microsoft Corp. Vendor yang satu ini merupakan salah satu dari beberapa vendor yang produknya sering dibajak, sehingga dengan munculnya HaKI, akan menjadi sebuah kabar gembira bagi vendor-vendor sejenisnya. HaKI yang merupakan salah satu rumusan UU diyakini mempunyai pengaruh kuat di masyarakat luas. “UU ini diyakini mampu memberantas pembajakan piranti lunak computer” (Ferdian Rully, 2003). Terkait dengan ruang lingkup HaKI yang telah meranah ke bidang TIK tersebut, mendapatkan berbagai tanggapan yang berbeda-beda. Seperti biasa, dalam penetapan UU pasti ada yang pro dan ada yang kontra. Adapun kebanyakan yang pro terhadap UU HaKI di bidang TIK ini kebanyakan adalah vendor-vendor software yang sering merasa dirugikan akibat hasil Kekayaan Intelektualnya yang sering dibajak seperti pada contoh sebelumnya, yaitu misalkan saja Microsoft corp. Produk yang dihasilkan oleh Microsoft corp, seperti Windows XP, Windows 7, Windows Vista, & Microsoft Office sudah menyebar dan sering dipakai di kalayak ramai. Namun, yang sering menjadi pertanyaan adalah apakah produk yang dipakai oleh kalayak ramai itu sudah mendapat lisensi dari yang berwenang? Ternyata tidak semua orang yang menggunakan produk Microsoft punya lisensi untuk menggunakan produk ini. Ini merupakan koreksi terhadap UU yang belum berfungsi secara maksimal meskipun dikatakan bahwa UU yang berkaitan dengan HaKI ini mempunyai pengaruh yang kuat di masyarakat luas. Sehingga bisa dikatakan bahwa meskipun kedudukan HaKI di masyarakat luas ini sangat kuat pengaruhnya namun percuma saja apabila tidak semua orang memperhatikan dan peduli terhadap UU yang berkaitan dengan HaKI ini sendiri. Perlu optimalisasi lebih lanjut lagi untuk memperbaiki fungsi UU tentang HaKI ini. Namun untuk menegakkan HaKI di Indonesia saja sebenarnya masih banyak problemnya. Salah satu hambatannya seperti “Harga produk bajakan masih lebih murah dan mudah diperoleh” (Rahardjo Budi, 2003). Sisi lain yang terjadi akibat diberlakukannya HaKI ini juga membuahkan kontra terhadap HaKI ini sendiri. “Masalah perlindungan HaKI adalah hanya untuk perusahaan besar saja, paten menjadi mengada-ada, paten software menghambat inovasi, paten membuat harga menjadi mahal, Pembajakan software di Indonesia” (Rahardjo Budi, 2004). Memang hal tersebut adalah contoh riil yang diakibatkan adanya perlindungan HaKI. HaKI hanya untuk perusahaan besar saja karena untuk melakukan paten software itu membutuhkan uang yang tidak sedikit. Jarang sekali perusahaan yang sanggup melakuakan paten. Ini akibat dari kurangnya financial. Akibatnya paten menjadi mengada-ada. Paten software juga menghambat inovasi. Bayangkan saja jika semua rumus matematik dan Algoritma dipatenkan. Kira-kira bagaimanakah nasib dari dunia pendidikan terutama bagi bidang TIK yang masih dalam skala kecil. Paten membuat harga menjadi mahal. “Perusahaan farmasi yang memiliki HaKI dari obat AIDS tidak mau melisensi dengan harga murah” (Rahardjo Budi, 2004). Di sini diperoleh kesimpulan bahwa memang keberadaan HaKI ini harus menemukan titik solusi yang berfungsi untuk menumbuhkan kemaslahatan masyarakat Indonesia khususnya, bukan untuk memihak salah satu pihak dan mengikat ruang gerak pihak lain. “Melihat bahwa perlindungan HaKI terlalu berlebihan dan lebih banyak membawa kejelekan” (Rahardjo Budi, 2004). Sehingga diharapkan bahwa HaKI itu ada untuk memberikan apresiasi kepada pencipta karya intelektual dan juga mengurangi jumlah tindak plagiat, namun keberadaan HaKI yang terlalu berlebih perlu dikritisi agar tidak membatasi karya intelektual, kreatifitas, dan inspirasi orang lain kedepannya. Karena ide yang baru itu bisa datang dari ide-ide yang datang sebelumnya. Sehingga yang namanya kekreatifitas yang baru itu bisa saja datang dari kreatifitas sebelumnya juga. Kalau tidak boleh mencari inspirasi kapan Indonesia maju? Mungkin ada bagusnya HaKI itu bersifat menghargai dan menengahi.

 

 

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s